Gordang sembilan

seni musik

Gordang sembilan


Jenis Budaya
seni musik

Asal Daerah
mandailing natal

Deskripsi
**Gordang Sambilan** merupakan alat musik tradisional khas masyarakat Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang terdiri dari sembilan buah gendang berukuran berbeda. Alat musik ini dimainkan secara berkelompok dengan menghasilkan irama yang khas dan memiliki nilai sakral dalam berbagai kegiatan adat Mandailing. Pada zaman dahulu, Gordang Sambilan digunakan dalam acara adat seperti **upacara perkawinan, penyambutan tamu kehormatan, acara kerajaan, dan ritual adat**. Selain sebagai alat musik, Gordang Sambilan juga menjadi simbol kebersamaan, identitas budaya, serta penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur masyarakat Mandailing. Keunikan Gordang Sambilan terletak pada susunan sembilan gendang dengan ukuran dan nada yang berbeda sehingga menghasilkan perpaduan suara yang harmonis. Hingga saat ini, Gordang Sambilan terus dilestarikan dan diperkenalkan sebagai salah satu warisan budaya Mandailing Natal kepada masyarakat luas. Cara Pembuatan Gordang Sambilan Pemilihan Kayu Tahap pertama adalah memilih kayu yang kuat, keras, dan memiliki kualitas baik. Kayu yang digunakan harus cukup kuat untuk menghasilkan suara yang baik serta mampu bertahan dalam waktu yang lama. Kayu kemudian dipotong sesuai dengan ukuran gendang yang akan dibuat. 2. Pembentukan Badan Gordang Kayu yang telah dipilih kemudian dibentuk menjadi badan gendang. Bagian tengah kayu dilubangi dan dikeruk secara bertahap sehingga membentuk ruang kosong di dalam gendang. Proses ini dilakukan dengan hati-hati agar ketebalan dinding gendang tetap seimbang. 3. Membentuk Ukuran yang Berbeda Gordang Sambilan terdiri atas sembilan gendang yang memiliki ukuran berbeda. Gendang berukuran besar menghasilkan suara yang lebih rendah, sedangkan gendang yang lebih kecil menghasilkan suara yang lebih tinggi. Perbedaan ukuran tersebut menjadi salah satu ciri khas Gordang Sambilan. 4. Penghalusan dan Pengeringan Setelah bentuk badan gendang selesai, permukaan kayu dihaluskan agar tidak terdapat bagian yang kasar atau tajam. Kayu kemudian dikeringkan untuk mengurangi kadar air di dalamnya. Proses pengeringan penting agar kayu menjadi lebih kuat dan menghasilkan suara yang lebih baik. 5. Pembuatan dan Pemasangan Kulit Bagian atas gendang ditutup menggunakan kulit hewan yang telah dipersiapkan dan diolah. Kulit dipasang dengan kuat pada bagian atas badan gendang. Ketegangan kulit harus diperhatikan karena akan memengaruhi tinggi rendah dan kualitas suara yang dihasilkan. 6. Pengaturan Ketegangan Kulit Setelah kulit terpasang, dilakukan pengaturan ketegangan agar setiap gendang menghasilkan suara yang sesuai. Tingkat ketegangan kulit pada masing-masing gendang dapat berbeda karena ukuran dan karakter suara yang dihasilkan juga berbeda. 7. Finishing dan Hiasan Tahap terakhir adalah melakukan finishing pada bagian luar Gordang Sambilan. Permukaan kayu dapat diberi warna atau hiasan sesuai dengan ciri khas budaya Mandailing. Ornamen yang digunakan dapat memperkuat nilai estetika sekaligus menunjukkan identitas budaya daerah. 8. Pengujian Suara Setelah seluruh bagian selesai, masing-masing gendang dimainkan untuk menguji kualitas suaranya. Jika terdapat suara yang kurang sesuai, dilakukan penyesuaian kembali pada ketegangan kulit atau bagian badan gendang. Setelah semua gendang menghasilkan suara yang baik, kesembilan gendang dapat digunakan sebagai satu perangkat Gordang Sambilan. Nilai Budaya dalam Pembuatan Gordang Sambilan Pembuatan Gordang Sambilan tidak hanya berkaitan dengan keterampilan membuat alat musik, tetapi juga merupakan bagian dari pengetahuan dan warisan budaya masyarakat Mandailing. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian, pengalaman, dan pengetahuan mengenai karakter kayu serta suara yang dihasilkan. Oleh karena itu, keterampilan membuat Gordang Sambilan perlu diwariskan kepada generasi muda agar keberadaan alat musik tradisional ini tetap terjaga dan tidak kehilangan identitas budayanya

Kembali